Tuesday, September 13, 2016

[Review Buku] Milea, Suara dari Dilan - Pidi Baiq



Milea, Suara dari Dilan adalah buku ketiga dari rangkaian buku Pidi Baiq, yang pertama Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1990, dan kedua Dilan, Dia adalah Dilanku Tahun 1991. Jujur, saya hanya membaca buku pertama dan ketiga ini, dengan melewatkan buku kedua. Jadi maafkan jika review ini kurang gimana gitu ya, cmiiw pls. Saya pribadi berterima kasih kepada kak Tez yang sudah baik hati meminjamkan bukunya (yang baru kebeli tapi belum dibaca) dan sebagai tanda terima kasih saya menulis review ini spesial for kak Tez.




Yang menarik dari Milea ini adalah buku ini dibuat berdasarkan keterangan dari Dilan, jadi kita akan disajikan cerita dari sudut pandang lelaki (yeay!!! Saya jatuh cinta dengan Dilan di buku pertama dan saya berharap bisa explore doi lebih jauh). Novel ini dimaksudkan untuk bisa menjadi pelajaran buat mereka yang baca, bukan hanya sekedar soal asmara.

Milea, Suara dari Dilan dimulai dengan menceritakan Dilan sejak kecil dan bagaimana Dilan tumbuh dan dididik dalam keluarga yang baik dan menyenangkan.

Kalau ada anaknya yang cemberut disebabkan karena ngambek oleh masalah yang sepele, biasanya dia akan datang untuk duduk di sampingnya dan aku masih ingat dia pernah bicara :
“Tak ada yang selesai dengan menangis,” katanya.
“Aku gak nangis,” kujawab.
“Gak nangis, koq, ada air matanya?”
“Gak tau,” kataku langsung telungkup di atas sofa, sambil menghapus air mataku diam-diam. Kalau gak salah aku masih TK waktu itu.
“Bunda! Air mata siapa di pipi Dilan?” Ayah nanya ke Bunda dengan agak teriak karena si Bundanya sedang ada di ruang tengah. “Gak boleh nitip-nitip gini.”
“Air matanya, laaahh!” jawab Bunda
“Bukan katanya,” jawab Ayah.
“Diaaaamm!” kataku sambil terus telungkup.

Kemudian cerita berlanjut ke masa remaja Dilan. Seperti remaja pada umumnya, Dilan mempunyai teman-teman kental yaitu Piyan, Anhar, Burhan, Ivan, dan Akew. Saya seperti mengingat masa SMA saya, memang untuk cowo-cowo yang punya banyak teman (baca : punya kelompok teman, atau geng) pasti punya tempat tongkrongan, tidak beda dengan Dilan dkk yang suka nongkrong di warung Bi Eem, atau di warung kopi Kang Ewok. Sebelum bertemu dengan Milea, Susi lah yang pertama kali naksir Dilan, tapi Dilannya ga suka sama doi :p Ini juga diceritain di buku pertama yang Dilan sampai ngumpet di lemari pas disamperin Susi di rumahnya, hahaha. Dilan tahu Milea dari obrolan temennya yang heboh karena ada cewe pindahan dari Jakarta. 

Waktu itu, aku setuju dengan yang lain bahwa Milea Adnan Hussain itu cantik, dan aku percaya ada hal indah lagi dari apa yang bisa kulihat selain dari rambutnya yang panjang dan tebal pirang alami. Sejauh yang aku tahu, dia selalu menampakkan dirinya dalam cara yang baik, bahkan ketika sedang makan kupat tahu gak enak di kantin sekolah.

Akhirnya tanggal 22 Desember 1990 Dilan dan Milea resmi berpacaran. Sejauh yang saya baca, ternyata Dilan juga seperti lelaki pada umumnya, logis, rasional, dan kadang egois (wah saya ga judging cowo seperti itu loh ya, piss). Bahwa dalam berpacaran ada suka dukanya, ada cemburunya, ada marah-marahannya, ya normal sih, semua juga begitu kali ya. Hanya Dilan, dengan karakternya, dia bisa membawa suasana lebih ceria karena sense of humor-nya dan tingkahnya yang kadang out of the box (dan pasti kamu bakal jatuh cinta). Konflik mulai muncul ketika kepentingan geng motor bentrok dengan Dilan-Milea, antara persahabatan dan cinta. 

Yang membedakan dengan buku pertama, di sini lumayan banyak diceritakan Dilan pasca SMA bahkan hingga reuni. Menurut saya, hal itu menarik karena mempresentasikan apa yang ada di pikiran Dilan.

Jauh
Apakah kamu rindu?
Aku di sini, Dilan.
Jauh. Jauh.
(Milea Adnan Hussain, 1991)

Apa yang Pidi Baiq inginkan agar pembaca dapat mengambil pelajaran dari buku ini, saya rasa berhasil. Romantisme dan gentle-nya Dilan dalam memperlakukan wanita jelas membuat Milea tak akan melupakannya seumur hidup (apalagi saya, hahaha). Guys, you have to learn from Dilan. Tapi Dilan juga hanyalah manusia biasa, di akhir buku, kalian akan menemukan sesuatu yang benar-benar bisa diambil pelajaran (I mean it). Saya jamin kalian ga akan rugi membaca Milea, Suara dari Dilan. Ringan, tapi bermakna. Saya memberi empat bintang untuk novel ini.

Tuesday, September 6, 2016

[Review Buku] Orang-Orang Proyek Ahmad Tohari



Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya untuk menghasilkan kemaslahatan bersama?

Memahami proyek pembangunan jembatan di sebuah desa bagi Kabul, insinyur yang mantan aktivis kampus, sungguh suatu pekerjaan sekaligus beban psikologis yang berat. “Permainan” yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Akankah Kabul bertahan pada idealismenya? Akankah jembatan baru itu mampu memenuhi dambaan lama penduduk setempat?

Hasil gambar untuk orang proyek ahmad tohari 
diambil dari google image

Novel kedua Ahmad Tohari yang saya baca, dan saya masih merasa amazed dengan tulisannya. Saya tertarik dengan Orang-Orang Proyek karena simple, saya sedang bekerja di proyek sekarang. Siapa tau ada cerita menarik di balik orang-orang proyek. Novel ini menceritakan konflik antara Kabul dengan system pemerintahan, masyarakat Orde Baru. Yang dikisahkan disini menurut saya pas dan tidak berlebihan. Kalau saya membaca buku ini di tahun 90-an, mungkin akan kentara sekali dengan kenyataan di lingkungan saya, tapi karena ini sudah 2016 saya hanya mengenang saja. 

Bagusnya penulis adalah bisa membuat para tokohnya itu seimbang bobotnya, tanpa mengurangi Kabul sebagai tokoh utama. Saya suka pergulatan batin masing-masing tokoh, serasa jujur, apa adanya. Andai saja ada sedikit cerita dari sudut pandang Wati, mungkin lebih baik. Novel ini terasa manly untuk saya, tapi saya suka, haha

Berikut adalah kutipan-kutipan yang saya suka :

“Jadi pengamalan kelima rukun itu bukan tujuan diutusnya Kanjeng Nabi?”
“Ya..”
“Nanti dulu. Jadi pengucapan syahadat, tindakan salat, dan seterusnya bukan tujuan keberagamaan kita?”
“Perhatikan lagi kata “kecuali”. Dengan demikian kita yakin bahwa tujuan keberagamaan kita adalah penyempurnaan budi luhur. Sedangkan kelima rukun hanya sarana untuk mencapai tujuan itu. Sarana, atau jalan, atau syariah. Tapi sepenting-pentingnya syariah, dia hanya jalan, bukan tujuan.”


“Yang saya maksud dengan perwira adalah parawira. Yaitu orang-orang yang tidak merasa kehilangan apapun ketika bersikap hormat dan peduli kepada orang lain; orang-orang yang tidak merasa rendah ketika meninggikan harkat dan martabat orang lain. Mereka adalah orang-orang yang malu ketika merasa dirinya lebih penting daripada orang lain siapa pun orang lain itu.”


“Atau karena daulat rakyat sesungguhnya memang belum tegak di republic yang sudah 45 tahun berdiri ini. Yang tetap tegak dati dulu adalah daulat pejabat, seperti pada zaman kerajaan. “


Hmm,,, agak ga jelas juga saya ngutip begini. Gamblang, begitu Ahmad Tohari sampaikan dalam novel Orang-orang Proyek.  Sayangnya saya membaca buku ini sepotong demi sepotong karena waktunya yang ga sempet :( padahal waktunya seminggu loh, baca separo pas hari pertama, dan baca separo sehari sebelum dikembalikan ke puskot :( Karena kurang enjoynya saya dalam membaca buku, saya hanya memberi rate 4 bintang (pls blame me)